Selasa, 04 Desember 2012

Lindungi Perempuan dan Anak Rohil dari AIDS


Refleksi Hari AIDS Sedunia (bagian 2)

HARI AIDS Sedunia (HAS) yang mulai diperingati sejak tahun 1988, setiap tahun mengusung tema yang berbeda. Tahun 2012 ini, tema yang diusung adalah ‘Lindungi Perempuan dan Anak-anak dari HIV dan AIDS’. Pemilihan tema ini berangkat dari kekuatiran makin banyaknya perempuan dan anak-anak yang menjadi korban HIV/AIDS setiap tahunnya. Perempuan dan anak memang berada dalam posisi rentan.

Sebelum bicara lebih jauh rentannya posisi perempuan dan anak, ada baiknya dijelaskan sedikit tentang apa sebenarnya itu AIDS dan apa itu HIV. AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu sekumpulan gejala dan infeksi (atau biasa disebut: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. 

Sedangkan HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyebabkan hilangnya kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor (id.wikipedia.org). 

Meskipun kini sudah ada penanganan dan obat-obatan dapat memperlambat laju perkembangan virus HIV, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. Setiap orang yang terjangkit virus HIV sudah pasti akan berujung pada AIDS yang pada akhirnya akan membawa kematian.

HIV bisa ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit-dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi. Bisa juga dari ibu kepada bayi yang ada dalam kandungan atau pada bayi yang ia susui.

AIDS memiliki masa inkubasi yang cukup panjang, bisa 9 - 10 tahun. Ketika seseorang mulai terjangkit HIV, jumlah sel CD-4 (sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia) dalam tubuhnya perlahan-lahan akan berkurang sampai setengahnya. Ini berarti tubuh telah kehilangan setengah dari kekebalannya. 

Tapi setelah melewati masa 9 - 10 tahun, jumlah sel CD-4 semakin habis sampai akhirnya tidak berfungsi sama sekali dan tubuh tak mampu serangan berbagai penyakit karena sudah tak memiliki kekebalan lagi. Pada saat itulah orang tersebut menjadi penderita AIDS. Jadi, seseorang yang mengidap AIDS, sebenarnya ia sudah terinfeksi HIV sejak 9 atau 10 tahun lalu. Pada masa inilah berbagai penyakit semakin parah dan menyebabkan penderitanya tersiksa sampai ajal datang menjemput. Karena masa inkubasi yang sangat panjang itu, 9 - 10 tahun, maka orang yang positif HIV secara fisik akan terlihat normal, sama seperti orang sehat lainnya.

* * *

Dalam tulisan sebelumnya, sudah disinggung bahwa perbandingan kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan di Indonesia saat ini adalah 2 : 1 (laki-laki : 71 persen dan perempuan 28 persen). Meskipun secara kuantitatif, jumlah lelaki yang terjangkit HIV dan AIDS lebih banyak, tapi peningkatan jumlah perempuan yang terkena HIV dan AIDS dari tahun ke tahun sangat mengkuatirkan.

Jangan disangka bahwa perempuan yang terkena HIV dan AIDS tersebut hanya dari kalangan wanita penjaja seks (WPS) saja. Bahkan perempuan baik-baik, ibu rumah tangga biasa yang setia kepada suaminya, ternyata juga bisa kena. Kok bisa? Ya... tentu saja karena ulah suaminya. Suami yang suka ‘jajan’ di luar, dan suatu ketika ternyata berhubungan ‘intim’ dengan perempuan yang terjangkit HIV, maka ia akan membawa wabah itu ke rumah, menulari istrinya. 

Jika istri sudah ikut tertular, maka nanti jika si istri tersebut hamil, sudah pasti anak yang akan ia lahirkan akan ikut tertular pula. Atau sang istri yang tertular, ternyata sedang memiliki bayi yang masih menyusu, maka si bayi juga tertular melalui air susu dari ibunya. Nah, betapa rentannya posisi perempuan dan anak, jika suami tak bisa menjaga diri dari hubungan seks beresiko di luar sana. Suami ‘nakal’, istri dan anak di rumah ikut kena ‘sial’. 

Menurut laporan Kementerian Kesehatan, sampai akhir Juni 2012, kasus HIV pada anak-anak tercatat sebanyak 789 kasus, terdiri dari anak bawah 4 tahun sebanyak 547 kasus, dan anak usia 5 - 14 tahun sebanyak 242 kasus. Sedangkan kasus HIV di kalangan perempuan tercatat sebanyak 9.883 kasus (rri.co.id). Diperkirakan jumlah kasus yang sebenarnya, jauh lebih tinggi dari data yang dimiliki oleh Kementerian kesehatan.

Kekuatiran terhadap rentannya para istri akibat ulah suami yang ‘nakal’ itu diungkapkan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PPA) Linda Amalia Gumelar dan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi. Menurut Linda Amalia Gumelar, dalam waktu beberapa tahun terakhir, penularan HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga di Indonesia cenderung meningkat, bahkan lebih tinggi daripada wanita pekerja seks komersial (PSK).

Biasanya, kata Linda, kasus HIV/AIDS banyak dialami oleh orang dengan perilaku berisiko —seperti pengguna narkoba suntik dan hubungan seks tidak aman— tapi kini ada kecenderungan peningkatan pengidap di kalangan ibu rumah tangga.

Sementara Menkes Nafsiah Mboi mengatakan, peningkatan kasus di kelompok yang perilaku tidak berisiko karena dampak dari perilaku yang tidak aman oleh laki-laki. ‘’Dari perempuan yang dilaporkan HIV positif, lebih banyak ibu rumah tangga, dibandingkan PSK. Mereka ini korban, karena mereka tak memiliki prilaku berisiko dan tidak menggunakan narkoba. Tapi tertular dari suaminya,’’ tutur Nafsiah (bbc.co.uk).

Bahkan menurut Menkes, kunci untuk mencegah semakin meluasnya HIV dan AIDS ada di tangan laki-laki. Laki-laki punya pilihan, apakah memakai uangnya untuk membeli penyakit —dengan berhubungan seks di tempat-tempat pelacuran— atau membeli gizi dan biaya pendidikan untuk anak-anaknya.

Selain seks bebas, ada satu lagi prilaku beresiko tertular HIV, yaitu narkoba, terutama narkoba suntik. Penggunaan narkoba suntik memiliki resiko penularan yang jauh lebih besar karena biasanya mereka menggunakan alat suntik secara bergantian dan tidak steril. Tapi bukan berarti narkoba tanpa suntik tak beresiko sama sekali. 

Orang-orang yang berada dalam pengaruh narkoba, biasanya kehilangan kontrol diri. Di saat-saat seperti itu, dengan mudah mereka bisa terjerumus ke hubungan seks beresiko dan dari sanalah kemungkinan tertular sangat mungkin terjadi. 

Nah, jika kita ingin melindungi perempuan dan anak-anak di kampung halaman Rohil tercinta ini dari wabah mematikan, HIV dan AIDS, maka yang paling penting untuk dilakukan adalah jauhi seks bebas. Jaga diri sendiri dan jauhi anak-anak kita dari narkoba. Jika Anda sayang pada anak dan istri, jaga diri Anda agar tak terjerumus. 

Bagaimana jika ada yang sudah pernah ‘terlanjur’ mencicipi dunia seks bebas, atau pakai narkoba suntik? Segeralah periksakan diri Anda, lakukan tes HIV. Tak perlu malu, di RS dr Pratomo tersedia fasilitasnya. Jika hasilnya negatif, alhamdulillah dan jangan diulangi lagi. Seandainya positif, Anda masih bisa mencegah agar tak menulari istri dan bayi yang nanti akan dilahirnya atau yang saat ini sedang ia susui 
Ingat, seks bebas itu seperti utang. Anda yang ‘enak-enakan’ berutang, anak dan istri Anda yang akan membayarnya dengan penderitaan.***

*dipublikasikan di posmetro rohil, 3 desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar