Oleh: M. Arief Rahman
Baru kali inilah saya melihat ada kota baru yang dibuat di Indonesia dengan karakter yang kuat. Saya sudah sering melihat kota baru seperti ini di Cina atau Malaysia, tapi baru di Bagansiapiapi ini saya menemukannya dilakukan di Indonesia.
Dahlan Iskan
Beberapa pekan sebelum menjadi Menteri Negera Badan Usaha Milik Negera, Dahlan Iskan sempat berkunjung ke Bagansiapiapi, ibukota Kabupaten Rokan Hilir. Dahlan yang saat itu menjabat direktur utama PLN, memang tak sampai satu hari di Bagansiapiapi. Namun ia sangat terkesima melihat pembangunan di Bagansiapiapi yang dijulukinya sebagai “Putra Jaya Junior”.
“Saya benar-benar dibuat terkejut oleh perkembangan kota tua ini. Bagansiapiapi ternyata lagi membangun diri secara besar-besaran. Bupati Rokan Hilir H Annas Maamun yang terpilih kembali, kini sedang membenahi kota lama sekaligus membangun kota baru,” tulis Dahlan dalam catatannya (Riau Pos, 1 Oktober 2011).
Putra Jaya adalah sebuah kota dengan arsitektur menawan, sekitar 25 kilometer dari Kuala Lumpur yang sekarang jadi pusat pemerintahan Malaysia. Kota baru di Bagansiapiapi yang dimaksud Dahlan Iskan adalah kawasan Batuenam yang merupakan komplek perkantoran pemerintahan, sekaligus diharapkan menjadi sentra bisnis.
Kawasan ini memang dirancang sedemikian rupa, dibuat seperti Putra Jaya dalam ukuran kecil. Jalan rayanya kembar, masing-masing tiga jalur. Bangunan-bangunan kantornya memiliki halaman yang luas, dibuat cukup jauh dari jalan raya. Dahlan Iskan menyebut kawasan ini sebagai ‘’Putra Jaya Junior’’ tentu saja karena arsitekturnya.
Seluruh bangunan di kota baru itu menggunakan model berkubah. Bangunan kecil berkubah kecil. Bangunan besar memiliki kubah besar. Ada model dua kubah, ada pula yang hanya satu kubah saja. “Baru kali inilah saya melihat ada kota baru yang dibuat di Indonesia dengan karakter yang kuat. Saya sudah sering melihat kota baru seperti ini di Cina atau Malaysia, tapi baru di Bagansiapiapi ini saya menemukannya dilakukan di Indonesia,” tulis Dahlan mengungkapkan kekagumannya.
Sejak lima tahun belakangan, setelah Rokan Hilir dipimpin duet H Annas Maamun dan H Suyatno, Bagansiapiapi seperti menemukan identitasnya yang baru. Sesungguhnya, jauh sebelum Indonesia merdeka, Bagansiapiapi sudah terkenal ke seluruh dunia. Yakni sebagai kota penghasil ikan terpenting. Surat kabar De Indische Mercuur pada tahun 1928 —seperti dikutip oleh situsid.wikipedia.org— menulis bahwa Bagansiapiapi adalah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah kota Bergen di Norwegia.
Bahkan menurut situs tersebut, pada tahun 1934, Bagansiapiapi sudah memiliki fasilitas pengolahan air minum, pembangkit tenaga listrik dan unit pemadam kebakaran. Karena kemajuan yang dicapai kota ini dibandingkan daerah-daerah lain di sekitarnya, Bagansiapiapi disebut Ville Lumiere atau Kota Cahaya.
Pada tahun 1980-an, buku-buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah-sekolah dasar masih mencantumkan bahwa salah satu daerah penghasil ikan terbesar dan teramai di Indonesia adalah Bagansiapiapi, yang pada saat itu masih masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bengkalis.
Namun, seiring perjalanan waktu, julukan Bagansiapiapi sebagai kota ikan itu lama kelamaan semakin memudar. Bila sebelumnya berkah alam yang menjadikan Bagansiapiapi sangat terkenal sebagai penghasil ikan, di kemudian hari faktor alam pula yang menyebabkan memudarnya secara berangsur-angsur. Pesisir pantai di sekitar Bagansiapiapi mengalami pendangkalan dan sempit oleh endapan lumpur yang dibawa air Sungai Rokan. Akibatnya, hasil ikan tangkapan para nelayan pun semakin berkurang. Sekarang, predikat kota ikan terbesar itu tinggal kenangan.
Menurut data dari Dinas Perikanan Kabupaten Rokan Hilir, pada tahun 2000-2003 produktivitas ikan tangkap laut berkisar pada angka 70.000 ton per tahun. Namun, pada tahun 2004 tinggal 32.989 ton. Jumlah nelayan turun dari sekitar 100 menjadi 40-an saja (Kompas, Senin, 11 Juli 2005, seperti dikutipid.wikipedia.org).
Barulah setelah Bupati H Annas Maamun dan Wakil Bupati H Suyatno memimpin Rokan Hilir, Bagansiapiapi menemukan identitasnya yang baru. Bupati dan Wakil Bupati yang memerintah 2006 – 2011 dan dilanjutkan dengan periode kedua 2011 – 2016 itu, membenahi kota lama, sekaligus membangun kota baru yang dirancang sedemikian rupa.
Gedung-gedung perkantoran didesain dengan arsitektur modern, unik, memiliki kubah. Bangunan-bangunan megah berkubah itu kini tak hanya ditemui di kawasan kota baru Batuenam dan Bagansiapiapi, tapi juga tersebar di berbagai penjuru Kabupaten Rokan Hilir. Kini sebutan sebagai Negeri Seribu Kubah pun lekat sebagai identitas Rokan Hilir.
Ke depan, bangunan-bangunan berkubah ini akan terus bermunculan di Rokan Hilir, bukan hanya di Bagansiapiapi. Menurut Kepala Dinas Cipta Karya Rokan Hilir, Syafruddin AMP, ciri khas bangunan berkubah itu akan terus dipertahankan. Bukan saja untuk gedung-gedung perkantoran pemerintah, tapi juga untuk bangunan-bangnan seperti sekolah dan pasar (Posmetro Rohil, Senin, 7 Mei 2012).
Memberi identitas baru bagi Rokan Hilir, setelah memudarnya identitas lama, adalah pilihan cerdas. Bupati H Annas Maamun dan wakilnya H Suyatno tampaknya paham betul tentang pentingnya identitas bagi sebuah daerah. Negeri dengan identitas yang tak jelas, apalagi tanpa identitas, adalah negeri tanpa karakter dan tak berjiwa. Identitas daerah (place identity) menumbuhkan rasa cinta dan memperkuat rasa kebanggaan warganya terhadap daerah yang mereka tempati. Rasa cinta dan kebanggaan ini merupakan modal yang sangat penting untuk mendapatkan partisipasi warga dalam menggerakan roda pembangunan.
Hanya saja, selama ini istilah identitas daerah lebih banyak dipahami sebagai ciri atau jati diri fisik sebuah kawasan. Baik berupa bangunan, lapangan, alun-laun, taman, terminal, pasar, rumah sakit, kawasan hunian, heritage, monumen maupun berbagai bentuk sarana fisik lainnya. Padahal, sesungguhnya pengertian identitas lebih dari sekedar ciri fisik suatu obyek, melainkan yang lebih penting adalah makna yang terkandung di dalamnya atau aspek-aspek nonfisik yang dimilikinya.
Karena itu, adalah teramat penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Rokan Hilir apa sebenarnya makna dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam predikat Negeri Seribu Kubah itu. Tanpa pemahaman yang jelas terhadap makna dan penanaman nilai-nilai filosofis tersebut, maka sesungguhnya ribuan kubah di puncak-puncak gedung itu hanya akan tinggal sebagai bentuk visual yang segera pudar tergerus zaman.Wallahua’lam.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar