![]() |
| Gubri HM Rusli Zainal menangis seusai apel akbar di halaman kantor gubernur Riau, Senin (11/2). |
oleh: M.
Arief Rahman
Pekan
Olahraga Nasional adalah...
bertahun-tahun
persiapan
dua
pekan pelaksanaan
lalu...
derita tak berkesudahan...
KALIMAT di
atas adalah pelintiran dari sindiran rakyat Uni Soviet terhadap Olimpiade Moskow
tahun 1980. Aslinya berbunyi: ‘’Olimpiade adalah bertahun-tahun persiapan, dua
minggu pelaksanaan, dan tiga abad pemulihan ekonomi rakyat’’.
Olimpiade
Maskow 1980 menjadi contoh pesta olahraga yang bangkrut. Biaya penyelenggaraan
sebesar 862 juta Ruble, sama sekali tak tertutupi oleh penerimaan yang hanya
745 juta Ruble. Uni Soviet sebagai negara penyelenggara tekor besar, dan
imbasnya ditanggung rakyat sebagai pembayar pajak. Tapi tentu saja bagi negara
sebesar Uni Soviet, bayaran sebesar itu dianggap sebagai ukuran daya tahan
ekonomi sebuah negara adidaya.
Kerugian yang
lebih besar sebenarnya pernah dialami Olimpiade sebelumnya di Montreal, Kanada
tahun 1976. Olimpiade Montreal bahkan bisa disebut sebagai ‘’bencana ekonomi’’
bagi rakyat Kanada. Total biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaraan
pesta olahraga dunia itu mencapai 1.600 juta Dollar Kanada. Padahal penerimaan
jauh di bawah angka itu. Akibatnya, penduduk Kanada harus menanggung biaya
olimpiade tersebut melalui pajak khusus sampai 30 tahun kemudian.
Di Riau, kita
baru saja melaksanakan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII, sekitar lima bulan
lalu —tepatnya September 2012. Persis seperti sindiran rakyat Uni Soviet di
atas, kemeriahan pesta itu tak lebih dari dua pekan. Lantas setelah itu...??
Bencana ekonomi memang sama sekali tak terjadi. Masyarakat Riau pun
rasa-rasanya tak ada yang merasa dirugikan atas pelaksanaan pesta olahraga
empat tahunan itu.
Bahkan
pemerintah mengklaim, helat PON memberi keuntungan yang sangat besar bagi rakyat
Riau. Gubri HM Rusli Zainal dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan, Riau
menjadi tuan rumah perhelatan PON merupakan sebuah anugerah. Kegiatan ini telah
meningkatkan percepatan pembangunan fasilitas olahraga serta mendukung promosi
daerah. Memberi efek yang besar bagi peningkatkan perekonomian masyarakat.
Bahkan, dalam
pidatonya di hadapan ribuan PNS dan masyarakat dalam apel akbar yang
berlangsung dalam suasana haru di halaman kantor gubernur, Senin, 11 Februari
2013, tiga hari setelah dirinya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), Gubri Rusli Zainal masih menyebut pelaksanaan PON
sebagai sebuah sukses besar. ‘’Keberhasilan itu layak dicatat dengan tinta
emas,’’ kata Gubri, sebagaimana dikutip banyak media.
Memang benar!
PON Riau sangat layak untuk disebut sebagai pesta olahraga paling
‘’bersejarah’’ di Indonesia. Paling banyak kesan dan kenangan yang
ditinggalkan. Lihat saja, betapa banyak venue olahraga berstandar nasional,
bahkan internasional yang kini dimiliki Riau berkat adanya PON. Bukan hanya di
Pekanbaru, sebagai ibukota Provinsi Riau, bahkan sampai ke daerah-daerah. Meski
akhirnya patut juga kita bertanya, setelah PON usai venue-venue itu masih tetap
dipakai atau tidak. Apakah masih dirawat dengan baik atau sudah bersemak.
Yang paling
spektakuler dan membanggakan tentu saja Stadion Utama di komplek Universitas
Riau. Inilah kini stadion terbaik di Indonesia, meski kapasitasnya tak sebesar
Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta. Bahkan sebelum stadion ini selesai —sampai
sekarang pun tak begitu jelas apakah sudah benar-benar selesai— otoritas
sepakbola Asia mempercayakan stadion ini sebagai tempat bertanding Pra
Piala AFC.
Kebanggaan
lain yang ditinggalkan PON Riau adalah dua fly over (jalan layang) yang membuat
Jalan Sudirman Pekanbaru bebas macet. Lalu, sebuah jembatan yang membentang
gagah di atas Sungai Siak, menghubungkan pusat Kota Pekanbaru dengan Rumbai:
Jembatan Siak III. Kini juga sedang dikerjakan, Jembatan Siak IV yang
menghubungkan Jalan Sudirman dengan Rumbai. Meski nanti selesainya jauh setelah
berakhirnya PON, tetap saja ia akan dikenang sebagai ‘’oleh-oleh’’ PON.
Tapi
sayangnya, PON ternyata tak hanya membuahkan kenangan manis. Kenangan pahitnya
pun tak terperikan. Belum lagi pesta dimulai, dua anggota DPRD Riau M Faisal
Aswan dan M Dunir, serta seorang pejabat Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora)
Riau Eka Dharma Putra ditangkap KPK. Kemudian menyusul pula Kepala Dinas Pemuda
dan Olahraga Lukman Abbas.
Seusai PON,
menyusul lagi Wakil Ketua DPRD Riau, Taufan Andoso Yakin, jadi tersangka dan
baru-baru ini telah divonis empat tahun penjara. Seperti tak bosan-bosannya,
KPK terus mengincar para anggota DPRD Riau. Tujuh anggota DPRD lagi: Adrian
Ali, Abu Bakar Siddik, Zulfan Heri, Tengku Muhaza, Muhamad Roem Zein, Syarif
Hidayat dan Toerechan Assyari, dijadikan tersangka.
Puncaknya,
Jumat, 8 Februari 2013 lalu, KPK mengumumkan Gubernur Riau HM Rusli Zainal
sebagai tersangka. Pak Gubri bahkan dijerat tiga kasus sekaligus. Dua kasus
untuk PON: sebagai penerima suap dan orang yang memerintahkan memberi suap
kepada oknum anggota DPRD terkait pembahasan Revisi Perda Nomor 6 Tahun 2010
tentang Penambahan Biaya Arena Menembak PON Riau. Selain itu, ia juga
disangkakan menyalahgunakan wewenang terkait pengesahan bagan kerja Izin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dan Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) pada tahun 2001-2006
di Pelalawan.
Maka
sesungguhnya, inilah PON yang paling spektakuler dan tak terlupakan. Rasanya,
belum pernah ada pesta olahraga di Indonesia yang membuahkan banyak orang besar
menjadi tersangka. Entah akan berapa banyak lagi yang bakal menyusul mereka.***
*dipublikasikan di posmetro rohil, kamis, 14 februari 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar