Jumat, 15 Februari 2013

PON, Anugerah dan Musibah



Gubri HM Rusli Zainal menangis seusai apel
akbar di halaman kantor gubernur Riau, Senin (11/2).
oleh: M. Arief Rahman


Pekan Olahraga Nasional adalah...
bertahun-tahun persiapan
dua pekan pelaksanaan
lalu... derita tak berkesudahan...

KALIMAT di atas adalah pelintiran dari sindiran rakyat Uni Soviet terhadap Olimpiade Moskow tahun 1980. Aslinya berbunyi: ‘’Olimpiade adalah bertahun-tahun persiapan, dua minggu pelaksanaan, dan tiga abad pemulihan ekonomi rakyat’’.

Olimpiade Maskow 1980 menjadi contoh pesta olahraga yang bangkrut. Biaya penyelenggaraan sebesar 862 juta Ruble, sama sekali tak tertutupi oleh penerimaan yang hanya 745 juta Ruble. Uni Soviet sebagai negara penyelenggara tekor besar, dan imbasnya ditanggung rakyat sebagai pembayar pajak. Tapi tentu saja bagi negara sebesar Uni Soviet, bayaran sebesar itu dianggap sebagai ukuran daya tahan ekonomi sebuah negara adidaya.

Kerugian yang lebih besar sebenarnya pernah dialami Olimpiade sebelumnya di Montreal, Kanada tahun 1976. Olimpiade Montreal bahkan bisa disebut sebagai ‘’bencana ekonomi’’ bagi rakyat Kanada. Total biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaraan pesta olahraga dunia itu mencapai 1.600 juta Dollar Kanada. Padahal penerimaan jauh di bawah angka itu. Akibatnya, penduduk Kanada harus menanggung biaya olimpiade tersebut melalui pajak khusus sampai 30 tahun kemudian.

Di Riau, kita baru saja melaksanakan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII, sekitar lima bulan lalu —tepatnya September 2012. Persis seperti sindiran rakyat Uni Soviet di atas, kemeriahan pesta itu tak lebih dari dua pekan. Lantas setelah itu...?? Bencana ekonomi memang sama sekali tak terjadi. Masyarakat Riau pun rasa-rasanya tak ada yang merasa dirugikan atas pelaksanaan pesta olahraga empat tahunan itu.

Bahkan pemerintah mengklaim, helat PON memberi keuntungan yang sangat besar bagi rakyat Riau. Gubri HM Rusli Zainal dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan, Riau menjadi tuan rumah perhelatan PON merupakan sebuah anugerah. Kegiatan ini telah meningkatkan percepatan pembangunan fasilitas olahraga serta mendukung promosi daerah. Memberi efek yang besar bagi peningkatkan perekonomian masyarakat.

Bahkan, dalam pidatonya di hadapan ribuan PNS dan masyarakat dalam apel akbar yang berlangsung dalam suasana haru di halaman kantor gubernur, Senin, 11 Februari 2013, tiga hari setelah dirinya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Gubri Rusli Zainal masih menyebut pelaksanaan PON sebagai sebuah sukses besar. ‘’Keberhasilan itu layak dicatat dengan tinta emas,’’ kata Gubri, sebagaimana dikutip banyak media.

Memang benar! PON Riau sangat layak untuk disebut sebagai pesta olahraga paling ‘’bersejarah’’ di Indonesia. Paling banyak kesan dan kenangan yang ditinggalkan. Lihat saja, betapa banyak venue olahraga berstandar nasional, bahkan internasional yang kini dimiliki Riau berkat adanya PON. Bukan hanya di Pekanbaru, sebagai ibukota Provinsi Riau, bahkan sampai ke daerah-daerah. Meski akhirnya patut juga kita bertanya, setelah PON usai venue-venue itu masih tetap dipakai atau tidak. Apakah masih dirawat dengan baik  atau sudah bersemak.

Yang paling spektakuler dan membanggakan tentu saja Stadion Utama di komplek Universitas Riau. Inilah kini stadion terbaik di Indonesia, meski kapasitasnya tak sebesar Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta. Bahkan sebelum stadion ini selesai —sampai sekarang pun tak begitu jelas apakah sudah benar-benar selesai— otoritas sepakbola Asia mempercayakan stadion ini sebagai tempat bertanding Pra Piala  AFC.

Kebanggaan lain yang ditinggalkan PON Riau adalah dua fly over (jalan layang) yang membuat Jalan Sudirman Pekanbaru bebas macet. Lalu, sebuah jembatan yang membentang gagah di atas Sungai Siak, menghubungkan pusat Kota Pekanbaru dengan Rumbai: Jembatan Siak III. Kini juga sedang dikerjakan, Jembatan Siak IV yang menghubungkan Jalan Sudirman dengan Rumbai. Meski nanti selesainya jauh setelah berakhirnya PON, tetap saja ia akan dikenang sebagai ‘’oleh-oleh’’ PON.

Tapi sayangnya, PON ternyata tak hanya membuahkan kenangan manis. Kenangan pahitnya pun tak terperikan. Belum lagi pesta dimulai, dua anggota DPRD Riau M Faisal Aswan dan M Dunir, serta seorang pejabat Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Riau Eka Dharma Putra ditangkap KPK. Kemudian menyusul pula Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Lukman Abbas.

Seusai PON, menyusul lagi Wakil Ketua DPRD Riau, Taufan Andoso Yakin, jadi tersangka dan baru-baru ini telah divonis empat tahun penjara. Seperti tak bosan-bosannya, KPK terus mengincar para anggota DPRD Riau. Tujuh anggota DPRD lagi: Adrian Ali, Abu Bakar Siddik, Zulfan Heri, Tengku Muhaza, Muhamad Roem Zein, Syarif Hidayat dan Toerechan Assyari, dijadikan tersangka.

Puncaknya, Jumat, 8 Februari 2013 lalu, KPK mengumumkan Gubernur Riau HM Rusli Zainal sebagai tersangka. Pak Gubri bahkan dijerat tiga kasus sekaligus. Dua kasus untuk PON: sebagai penerima suap dan orang yang memerintahkan memberi suap kepada oknum anggota DPRD terkait pembahasan Revisi Perda Nomor 6 Tahun 2010 tentang Penambahan Biaya Arena Menembak PON Riau. Selain itu, ia juga disangkakan menyalahgunakan wewenang terkait pengesahan bagan kerja Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dan Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) pada tahun 2001-2006 di Pelalawan.

Maka sesungguhnya, inilah PON yang paling spektakuler dan tak terlupakan. Rasanya, belum pernah ada pesta olahraga di Indonesia yang membuahkan banyak orang besar menjadi tersangka. Entah akan berapa banyak lagi yang bakal menyusul mereka.***

*dipublikasikan di posmetro rohil, kamis, 14 februari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar