Jumat, 15 Februari 2013

PON, Anugerah dan Musibah



Gubri HM Rusli Zainal menangis seusai apel
akbar di halaman kantor gubernur Riau, Senin (11/2).
oleh: M. Arief Rahman


Pekan Olahraga Nasional adalah...
bertahun-tahun persiapan
dua pekan pelaksanaan
lalu... derita tak berkesudahan...

KALIMAT di atas adalah pelintiran dari sindiran rakyat Uni Soviet terhadap Olimpiade Moskow tahun 1980. Aslinya berbunyi: ‘’Olimpiade adalah bertahun-tahun persiapan, dua minggu pelaksanaan, dan tiga abad pemulihan ekonomi rakyat’’.

Olimpiade Maskow 1980 menjadi contoh pesta olahraga yang bangkrut. Biaya penyelenggaraan sebesar 862 juta Ruble, sama sekali tak tertutupi oleh penerimaan yang hanya 745 juta Ruble. Uni Soviet sebagai negara penyelenggara tekor besar, dan imbasnya ditanggung rakyat sebagai pembayar pajak. Tapi tentu saja bagi negara sebesar Uni Soviet, bayaran sebesar itu dianggap sebagai ukuran daya tahan ekonomi sebuah negara adidaya.

Kerugian yang lebih besar sebenarnya pernah dialami Olimpiade sebelumnya di Montreal, Kanada tahun 1976. Olimpiade Montreal bahkan bisa disebut sebagai ‘’bencana ekonomi’’ bagi rakyat Kanada. Total biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaraan pesta olahraga dunia itu mencapai 1.600 juta Dollar Kanada. Padahal penerimaan jauh di bawah angka itu. Akibatnya, penduduk Kanada harus menanggung biaya olimpiade tersebut melalui pajak khusus sampai 30 tahun kemudian.

Di Riau, kita baru saja melaksanakan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII, sekitar lima bulan lalu —tepatnya September 2012. Persis seperti sindiran rakyat Uni Soviet di atas, kemeriahan pesta itu tak lebih dari dua pekan. Lantas setelah itu...?? Bencana ekonomi memang sama sekali tak terjadi. Masyarakat Riau pun rasa-rasanya tak ada yang merasa dirugikan atas pelaksanaan pesta olahraga empat tahunan itu.

Bahkan pemerintah mengklaim, helat PON memberi keuntungan yang sangat besar bagi rakyat Riau. Gubri HM Rusli Zainal dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan, Riau menjadi tuan rumah perhelatan PON merupakan sebuah anugerah. Kegiatan ini telah meningkatkan percepatan pembangunan fasilitas olahraga serta mendukung promosi daerah. Memberi efek yang besar bagi peningkatkan perekonomian masyarakat.

Bahkan, dalam pidatonya di hadapan ribuan PNS dan masyarakat dalam apel akbar yang berlangsung dalam suasana haru di halaman kantor gubernur, Senin, 11 Februari 2013, tiga hari setelah dirinya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Gubri Rusli Zainal masih menyebut pelaksanaan PON sebagai sebuah sukses besar. ‘’Keberhasilan itu layak dicatat dengan tinta emas,’’ kata Gubri, sebagaimana dikutip banyak media.

Memang benar! PON Riau sangat layak untuk disebut sebagai pesta olahraga paling ‘’bersejarah’’ di Indonesia. Paling banyak kesan dan kenangan yang ditinggalkan. Lihat saja, betapa banyak venue olahraga berstandar nasional, bahkan internasional yang kini dimiliki Riau berkat adanya PON. Bukan hanya di Pekanbaru, sebagai ibukota Provinsi Riau, bahkan sampai ke daerah-daerah. Meski akhirnya patut juga kita bertanya, setelah PON usai venue-venue itu masih tetap dipakai atau tidak. Apakah masih dirawat dengan baik  atau sudah bersemak.

Yang paling spektakuler dan membanggakan tentu saja Stadion Utama di komplek Universitas Riau. Inilah kini stadion terbaik di Indonesia, meski kapasitasnya tak sebesar Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta. Bahkan sebelum stadion ini selesai —sampai sekarang pun tak begitu jelas apakah sudah benar-benar selesai— otoritas sepakbola Asia mempercayakan stadion ini sebagai tempat bertanding Pra Piala  AFC.

Kebanggaan lain yang ditinggalkan PON Riau adalah dua fly over (jalan layang) yang membuat Jalan Sudirman Pekanbaru bebas macet. Lalu, sebuah jembatan yang membentang gagah di atas Sungai Siak, menghubungkan pusat Kota Pekanbaru dengan Rumbai: Jembatan Siak III. Kini juga sedang dikerjakan, Jembatan Siak IV yang menghubungkan Jalan Sudirman dengan Rumbai. Meski nanti selesainya jauh setelah berakhirnya PON, tetap saja ia akan dikenang sebagai ‘’oleh-oleh’’ PON.

Tapi sayangnya, PON ternyata tak hanya membuahkan kenangan manis. Kenangan pahitnya pun tak terperikan. Belum lagi pesta dimulai, dua anggota DPRD Riau M Faisal Aswan dan M Dunir, serta seorang pejabat Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Riau Eka Dharma Putra ditangkap KPK. Kemudian menyusul pula Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Lukman Abbas.

Seusai PON, menyusul lagi Wakil Ketua DPRD Riau, Taufan Andoso Yakin, jadi tersangka dan baru-baru ini telah divonis empat tahun penjara. Seperti tak bosan-bosannya, KPK terus mengincar para anggota DPRD Riau. Tujuh anggota DPRD lagi: Adrian Ali, Abu Bakar Siddik, Zulfan Heri, Tengku Muhaza, Muhamad Roem Zein, Syarif Hidayat dan Toerechan Assyari, dijadikan tersangka.

Puncaknya, Jumat, 8 Februari 2013 lalu, KPK mengumumkan Gubernur Riau HM Rusli Zainal sebagai tersangka. Pak Gubri bahkan dijerat tiga kasus sekaligus. Dua kasus untuk PON: sebagai penerima suap dan orang yang memerintahkan memberi suap kepada oknum anggota DPRD terkait pembahasan Revisi Perda Nomor 6 Tahun 2010 tentang Penambahan Biaya Arena Menembak PON Riau. Selain itu, ia juga disangkakan menyalahgunakan wewenang terkait pengesahan bagan kerja Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dan Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) pada tahun 2001-2006 di Pelalawan.

Maka sesungguhnya, inilah PON yang paling spektakuler dan tak terlupakan. Rasanya, belum pernah ada pesta olahraga di Indonesia yang membuahkan banyak orang besar menjadi tersangka. Entah akan berapa banyak lagi yang bakal menyusul mereka.***

*dipublikasikan di posmetro rohil, kamis, 14 februari 2013

Sabtu, 22 Desember 2012

Memaknai Rohil Sebagai Negeri Seribu Kubah


Oleh: M. Arief Rahman 
Baru kali inilah saya melihat ada kota baru yang dibuat di Indonesia dengan karakter yang kuat. Saya sudah sering melihat kota baru seperti ini di Cina atau Malaysia, tapi baru di Bagansiapiapi ini saya menemukannya dilakukan di Indonesia.
Dahlan Iskan
Beberapa pekan sebelum menjadi Menteri Negera Badan Usaha Milik Negera, Dahlan Iskan sempat berkunjung ke Bagansiapiapi, ibukota Kabupaten Rokan Hilir. Dahlan yang saat itu menjabat direktur utama PLN, memang tak sampai satu hari di Bagansiapiapi. Namun ia sangat terkesima melihat pembangunan di Bagansiapiapi yang dijulukinya sebagai “Putra Jaya Junior”.
“Saya benar-benar dibuat terkejut oleh perkembangan kota tua ini. Bagansiapiapi ternyata lagi membangun diri secara besar-besaran. Bupati Rokan Hilir H Annas Maamun yang terpilih kembali, kini sedang membenahi kota lama sekaligus membangun kota baru,” tulis Dahlan dalam catatannya (Riau Pos, 1 Oktober 2011).
Putra Jaya adalah sebuah kota dengan arsitektur menawan, sekitar 25 kilometer dari Kuala Lumpur yang sekarang jadi pusat pemerintahan Malaysia. Kota baru di Bagansiapiapi yang dimaksud Dahlan Iskan adalah kawasan Batuenam yang merupakan komplek perkantoran pemerintahan, sekaligus diharapkan menjadi sentra bisnis.
Kawasan ini memang dirancang sedemikian rupa, dibuat seperti Putra Jaya dalam ukuran kecil. Jalan rayanya kembar, masing-masing tiga jalur. Bangunan-bangunan kantornya memiliki halaman yang luas, dibuat cukup jauh dari jalan raya. Dahlan Iskan menyebut kawasan ini sebagai ‘’Putra Jaya Junior’’ tentu saja karena arsitekturnya.
Seluruh bangunan di kota baru itu menggunakan model berkubah. Bangunan kecil berkubah kecil. Bangunan besar memiliki kubah besar. Ada model dua kubah, ada pula yang hanya satu kubah saja. “Baru kali inilah saya melihat ada kota baru yang dibuat di Indonesia dengan karakter yang kuat. Saya sudah sering melihat kota baru seperti ini di Cina atau Malaysia, tapi baru di Bagansiapiapi ini saya menemukannya dilakukan di Indonesia,” tulis Dahlan mengungkapkan kekagumannya.
Sejak lima tahun belakangan, setelah Rokan Hilir dipimpin duet H Annas Maamun dan H Suyatno, Bagansiapiapi seperti menemukan identitasnya yang baru. Sesungguhnya, jauh sebelum Indonesia merdeka, Bagansiapiapi sudah terkenal ke seluruh dunia. Yakni sebagai kota penghasil ikan terpenting. Surat kabar De Indische Mercuur pada tahun 1928 —seperti dikutip oleh situsid.wikipedia.org— menulis bahwa Bagansiapiapi adalah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah kota Bergen di Norwegia.
Bahkan menurut situs tersebut, pada tahun 1934, Bagansiapiapi sudah memiliki fasilitas pengolahan air minum, pembangkit tenaga listrik dan unit pemadam kebakaran. Karena kemajuan yang dicapai kota ini dibandingkan daerah-daerah lain di sekitarnya, Bagansiapiapi disebut Ville Lumiere atau Kota Cahaya.
Pada tahun 1980-an, buku-buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah-sekolah dasar masih mencantumkan bahwa salah satu daerah penghasil ikan terbesar dan teramai di Indonesia adalah Bagansiapiapi, yang pada saat itu masih masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bengkalis.
Namun, seiring perjalanan waktu, julukan Bagansiapiapi sebagai kota ikan itu lama kelamaan semakin memudar. Bila sebelumnya berkah alam yang menjadikan Bagansiapiapi sangat terkenal sebagai penghasil ikan, di kemudian hari faktor alam pula yang menyebabkan memudarnya secara berangsur-angsur. Pesisir pantai di sekitar Bagansiapiapi mengalami pendangkalan dan sempit oleh endapan lumpur yang dibawa air Sungai Rokan. Akibatnya, hasil ikan tangkapan para nelayan pun semakin berkurang. Sekarang, predikat kota ikan terbesar itu tinggal kenangan.
Menurut data dari Dinas Perikanan Kabupaten Rokan Hilir, pada tahun 2000-2003 produktivitas ikan tangkap laut berkisar pada angka 70.000 ton per tahun. Namun, pada tahun 2004 tinggal 32.989 ton. Jumlah nelayan turun dari sekitar 100 menjadi 40-an saja (Kompas, Senin, 11 Juli 2005, seperti dikutipid.wikipedia.org).
Barulah setelah Bupati H Annas Maamun dan Wakil Bupati H Suyatno memimpin Rokan Hilir, Bagansiapiapi menemukan identitasnya yang baru. Bupati dan Wakil Bupati yang memerintah 2006 – 2011 dan dilanjutkan dengan periode kedua 2011 – 2016 itu, membenahi kota lama, sekaligus membangun kota baru yang dirancang sedemikian rupa.
Gedung-gedung perkantoran didesain dengan arsitektur modern, unik, memiliki kubah. Bangunan-bangunan megah berkubah itu kini tak hanya ditemui di kawasan kota baru Batuenam dan Bagansiapiapi, tapi juga tersebar di berbagai penjuru Kabupaten Rokan Hilir. Kini sebutan sebagai Negeri Seribu Kubah pun lekat sebagai identitas Rokan Hilir.
Ke depan, bangunan-bangunan berkubah ini akan terus bermunculan di Rokan Hilir, bukan hanya di Bagansiapiapi. Menurut Kepala Dinas Cipta Karya Rokan Hilir, Syafruddin AMP, ciri khas bangunan berkubah itu akan terus dipertahankan. Bukan saja untuk gedung-gedung perkantoran pemerintah, tapi juga untuk bangunan-bangnan seperti sekolah dan pasar (Posmetro Rohil, Senin, 7 Mei 2012).
Memberi identitas baru bagi Rokan Hilir, setelah memudarnya identitas lama, adalah pilihan cerdas. Bupati H Annas Maamun dan wakilnya H Suyatno tampaknya paham betul tentang pentingnya identitas bagi sebuah daerah. Negeri dengan identitas yang tak jelas, apalagi tanpa identitas, adalah negeri tanpa karakter dan tak berjiwa. Identitas daerah (place identity) menumbuhkan rasa cinta dan memperkuat rasa kebanggaan warganya terhadap daerah yang mereka tempati. Rasa cinta dan kebanggaan ini merupakan modal yang sangat penting untuk mendapatkan partisipasi warga dalam menggerakan roda pembangunan.
Hanya saja, selama ini istilah identitas daerah lebih banyak dipahami sebagai ciri atau jati diri fisik sebuah kawasan. Baik berupa bangunan, lapangan, alun-laun, taman, terminal, pasar, rumah sakit, kawasan hunian, heritage, monumen maupun berbagai bentuk sarana fisik lainnya. Padahal, sesungguhnya pengertian identitas lebih dari sekedar ciri fisik suatu obyek, melainkan yang lebih penting adalah makna yang terkandung di dalamnya atau aspek-aspek nonfisik yang dimilikinya.
Karena itu, adalah teramat penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Rokan Hilir apa sebenarnya makna dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam predikat Negeri Seribu Kubah itu. Tanpa pemahaman yang jelas terhadap makna dan penanaman nilai-nilai filosofis tersebut, maka sesungguhnya ribuan kubah di puncak-puncak gedung itu hanya akan tinggal sebagai bentuk visual yang segera pudar tergerus zaman.Wallahua’lam.***

Selasa, 04 Desember 2012

Lindungi Perempuan dan Anak Rohil dari AIDS


Refleksi Hari AIDS Sedunia (bagian 2)

HARI AIDS Sedunia (HAS) yang mulai diperingati sejak tahun 1988, setiap tahun mengusung tema yang berbeda. Tahun 2012 ini, tema yang diusung adalah ‘Lindungi Perempuan dan Anak-anak dari HIV dan AIDS’. Pemilihan tema ini berangkat dari kekuatiran makin banyaknya perempuan dan anak-anak yang menjadi korban HIV/AIDS setiap tahunnya. Perempuan dan anak memang berada dalam posisi rentan.

Sebelum bicara lebih jauh rentannya posisi perempuan dan anak, ada baiknya dijelaskan sedikit tentang apa sebenarnya itu AIDS dan apa itu HIV. AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu sekumpulan gejala dan infeksi (atau biasa disebut: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. 

Sedangkan HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyebabkan hilangnya kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor (id.wikipedia.org). 

Meskipun kini sudah ada penanganan dan obat-obatan dapat memperlambat laju perkembangan virus HIV, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. Setiap orang yang terjangkit virus HIV sudah pasti akan berujung pada AIDS yang pada akhirnya akan membawa kematian.

HIV bisa ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit-dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi. Bisa juga dari ibu kepada bayi yang ada dalam kandungan atau pada bayi yang ia susui.

AIDS memiliki masa inkubasi yang cukup panjang, bisa 9 - 10 tahun. Ketika seseorang mulai terjangkit HIV, jumlah sel CD-4 (sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia) dalam tubuhnya perlahan-lahan akan berkurang sampai setengahnya. Ini berarti tubuh telah kehilangan setengah dari kekebalannya. 

Tapi setelah melewati masa 9 - 10 tahun, jumlah sel CD-4 semakin habis sampai akhirnya tidak berfungsi sama sekali dan tubuh tak mampu serangan berbagai penyakit karena sudah tak memiliki kekebalan lagi. Pada saat itulah orang tersebut menjadi penderita AIDS. Jadi, seseorang yang mengidap AIDS, sebenarnya ia sudah terinfeksi HIV sejak 9 atau 10 tahun lalu. Pada masa inilah berbagai penyakit semakin parah dan menyebabkan penderitanya tersiksa sampai ajal datang menjemput. Karena masa inkubasi yang sangat panjang itu, 9 - 10 tahun, maka orang yang positif HIV secara fisik akan terlihat normal, sama seperti orang sehat lainnya.

* * *

Dalam tulisan sebelumnya, sudah disinggung bahwa perbandingan kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan di Indonesia saat ini adalah 2 : 1 (laki-laki : 71 persen dan perempuan 28 persen). Meskipun secara kuantitatif, jumlah lelaki yang terjangkit HIV dan AIDS lebih banyak, tapi peningkatan jumlah perempuan yang terkena HIV dan AIDS dari tahun ke tahun sangat mengkuatirkan.

Jangan disangka bahwa perempuan yang terkena HIV dan AIDS tersebut hanya dari kalangan wanita penjaja seks (WPS) saja. Bahkan perempuan baik-baik, ibu rumah tangga biasa yang setia kepada suaminya, ternyata juga bisa kena. Kok bisa? Ya... tentu saja karena ulah suaminya. Suami yang suka ‘jajan’ di luar, dan suatu ketika ternyata berhubungan ‘intim’ dengan perempuan yang terjangkit HIV, maka ia akan membawa wabah itu ke rumah, menulari istrinya. 

Jika istri sudah ikut tertular, maka nanti jika si istri tersebut hamil, sudah pasti anak yang akan ia lahirkan akan ikut tertular pula. Atau sang istri yang tertular, ternyata sedang memiliki bayi yang masih menyusu, maka si bayi juga tertular melalui air susu dari ibunya. Nah, betapa rentannya posisi perempuan dan anak, jika suami tak bisa menjaga diri dari hubungan seks beresiko di luar sana. Suami ‘nakal’, istri dan anak di rumah ikut kena ‘sial’. 

Menurut laporan Kementerian Kesehatan, sampai akhir Juni 2012, kasus HIV pada anak-anak tercatat sebanyak 789 kasus, terdiri dari anak bawah 4 tahun sebanyak 547 kasus, dan anak usia 5 - 14 tahun sebanyak 242 kasus. Sedangkan kasus HIV di kalangan perempuan tercatat sebanyak 9.883 kasus (rri.co.id). Diperkirakan jumlah kasus yang sebenarnya, jauh lebih tinggi dari data yang dimiliki oleh Kementerian kesehatan.

Kekuatiran terhadap rentannya para istri akibat ulah suami yang ‘nakal’ itu diungkapkan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PPA) Linda Amalia Gumelar dan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi. Menurut Linda Amalia Gumelar, dalam waktu beberapa tahun terakhir, penularan HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga di Indonesia cenderung meningkat, bahkan lebih tinggi daripada wanita pekerja seks komersial (PSK).

Biasanya, kata Linda, kasus HIV/AIDS banyak dialami oleh orang dengan perilaku berisiko —seperti pengguna narkoba suntik dan hubungan seks tidak aman— tapi kini ada kecenderungan peningkatan pengidap di kalangan ibu rumah tangga.

Sementara Menkes Nafsiah Mboi mengatakan, peningkatan kasus di kelompok yang perilaku tidak berisiko karena dampak dari perilaku yang tidak aman oleh laki-laki. ‘’Dari perempuan yang dilaporkan HIV positif, lebih banyak ibu rumah tangga, dibandingkan PSK. Mereka ini korban, karena mereka tak memiliki prilaku berisiko dan tidak menggunakan narkoba. Tapi tertular dari suaminya,’’ tutur Nafsiah (bbc.co.uk).

Bahkan menurut Menkes, kunci untuk mencegah semakin meluasnya HIV dan AIDS ada di tangan laki-laki. Laki-laki punya pilihan, apakah memakai uangnya untuk membeli penyakit —dengan berhubungan seks di tempat-tempat pelacuran— atau membeli gizi dan biaya pendidikan untuk anak-anaknya.

Selain seks bebas, ada satu lagi prilaku beresiko tertular HIV, yaitu narkoba, terutama narkoba suntik. Penggunaan narkoba suntik memiliki resiko penularan yang jauh lebih besar karena biasanya mereka menggunakan alat suntik secara bergantian dan tidak steril. Tapi bukan berarti narkoba tanpa suntik tak beresiko sama sekali. 

Orang-orang yang berada dalam pengaruh narkoba, biasanya kehilangan kontrol diri. Di saat-saat seperti itu, dengan mudah mereka bisa terjerumus ke hubungan seks beresiko dan dari sanalah kemungkinan tertular sangat mungkin terjadi. 

Nah, jika kita ingin melindungi perempuan dan anak-anak di kampung halaman Rohil tercinta ini dari wabah mematikan, HIV dan AIDS, maka yang paling penting untuk dilakukan adalah jauhi seks bebas. Jaga diri sendiri dan jauhi anak-anak kita dari narkoba. Jika Anda sayang pada anak dan istri, jaga diri Anda agar tak terjerumus. 

Bagaimana jika ada yang sudah pernah ‘terlanjur’ mencicipi dunia seks bebas, atau pakai narkoba suntik? Segeralah periksakan diri Anda, lakukan tes HIV. Tak perlu malu, di RS dr Pratomo tersedia fasilitasnya. Jika hasilnya negatif, alhamdulillah dan jangan diulangi lagi. Seandainya positif, Anda masih bisa mencegah agar tak menulari istri dan bayi yang nanti akan dilahirnya atau yang saat ini sedang ia susui 
Ingat, seks bebas itu seperti utang. Anda yang ‘enak-enakan’ berutang, anak dan istri Anda yang akan membayarnya dengan penderitaan.***

*dipublikasikan di posmetro rohil, 3 desember 2012

Minggu, 02 Desember 2012

Wabah Mematikan di Kampung Halaman


>>Refleksi Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2012 (bagian 1)

HARI ini, 1 Desember 2012, diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Ini adalah sebuah hari yang didedikasikan untuk meningkatkan kewaspadaan seluruh lapisan masyarakat di berbagai penjuru Bumi terhadap wabah AIDS yang terus meluas dari tahun ke tahun. Ide peringatan Hari AIDS Sedunia ini pertama kali dicetuskan oleh James W Bunn dan Thomas Netter, dua orang pekerja di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bagian informasi publik.

Ide itu sebenarnya disampaikan Bunn dan Netter, Agustus 1987. Bunn menyarankan momen yang dipilih adalah tanggal 1 Desember, dan HAS mulai diperingati sejak 1 Desember 1988 (id.wikipedia.org). Sebenarnya tak ada kejadian apa pun yang istimewa pada 1 Desember 1988 tersebut. Pilihan ini tak lain karena pertimbangan strategi peliputan di media massa, karena liputan media diyakini sangat penting untuk keberhasilan kampanye penanggulangan AIDS di seluruh dunia.

Sebagai mantan reporter televisi di Fransisco, Bunn paham betul karakter media, khususnya di Barat. Pertengahan 1988 adalah masa pemilihan presiden Amerika Serikat. Jika HAS diperingati di bulan-bulan awal hingga pertengahan tahun, tentu liputan media tak terlalu signifikan karena mereka lebih fokus ke pemilihan presiden.

Biasanya, pasca pemilihan presiden AS media di Barat nyaris tak lagi bernafsu memberitakan politik, dan justru mereka bersemangat mencari cerita baru untuk diliput. Sementara akhir Desember, media di Barat biasanya disibukkan dengan liputan Natal dan tahun baru. Maka 1 Desember, menurut Bunn dan Netter, adalah momen yang tepat karena itu adalah tanggal mati dalam kalender berita di Barat.

Kasus HIV pertama muncul di Indonesia pada tahun 1987, atau setahun sebelum Hari AIDS Sedunia yang pertama kali dicanangkan pada 1 Desember 1988. Hari ini, 25 tahun setelah kasus pertama itu atau saat kita memperingati HAS ke-24, jumlah kasus HIV dan AIDS di bumi Indonesia tercinta sungguh sangat mencengangkan.

Kementerian Kesehatan RI melaporkan, sejak pertama kali kasus HIV ditemukan pada tahun 1987 sampai dengan Maret 2012, terdapat 30.430 kasus AIDS dan 82.870 orang terinfeksi HIV yang tersebar di 33 propinsi di Indonesia. Prosentase kumulatif AIDS tertinggi ada pada kelompok umur 20-29 tahun (46,0 persen). Rasio kasus AIDS antara laki-laki dengan perempuan adalah 2 : 1 (laki-laki : 71 persen dan perempuan 28 persen).

Selama periode pelaporan bulan Januari hingga Maret 2012, prosentase kasus HIV/AIDS tertinggi adalah karena hubungan seks tidak aman pada heteroseksual (77 persen), penggunaan jarum suntik pada penasun alias pemakai narkoba suntik (8,5 persen), dari ibu (positif HIV) ke anak (5,1 persen) dan LSL alias Lelaki hubungan Seks dengan Lelaki (2,7%). Yang lebih miris lagi, menurut laporan ini, jumlah kasus HIV pada anak-anak sebanyak 789 orang, terdiri dari anak bawah 4 tahun sebanyak 547 kasus, dan anak usia 5 - 14 tahun sebanyak 242 kasus (aidsindonesia.or.id).

Lantas, bagaimana dengan kasus HIV/AIDS di kampung kita, Rokan Hilir? Menurut catatan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Rokan Hilir, sedikitnya saat ini terdapat 77 kasus HIV dan 55 kasus AIDS di Rokan Hilir. Angka-angka ini sempat membuat kaget Ketua KPA Rohil yang juga Wakil Bupati Rokan Hilir H Suyatno AMP. Ia menganggap jumlah kasus di Rokan Hilir sudah sangat mengkuatirkan. ‘’Ini peningkatan yang cukup luar biasa, perlu penanganan khusus dan serius dari kita semua secara seksama,’’ kata Suyatno (Posmetro Rohil, 20/11/2012).

Suyatno tentu saja pantas sangat kuatir. Kekuatiran itu sesungguhnya bukan hanya pada angka kasus HIV dan AIDS yang 77 dan 55 kasus saja. Tapi ada yang lebih mencemaskan di balik angka tersebut. Angka 77 dan 55 kasus ini sebenarnya adalah angka yang ketahuan saja, hasil temuan Dinas Kesehatan dari pemeriksaan. Masalahnya, bagaimana dengan kasus-kasus yang belum ketahuan?

Di kalangan pegiat penanggulangan HIV/AIDS dikenal fenomena ‘puncak gunung es’. Fenomena gunung es itu biasanya sering digunakan sebagai perumpamaan, dimana umumnya, sekitar 80 - 90 persen volume gunung es berada di bawah permukaan air laut. Sedangkan yang terlihat di permukaan hanyalah puncaknya dengan volumenya sekitar 20 persen saja. Memakai fenomena gunung es ini, WHO menyatakan dari 1 orang yang terdeteksi diduga ada sekitar 100 orang lainnya terjangkit.

Bayangkan, jika menggunakan teori ‘puncak gunung es’ tersebut, berapa sesungguhnya kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di Rokan Hilir. Silakan saja kalikan angka kasus saat ini dengan angka 100. Itulah kemungkinan jumlah orang yang sudah terjangkit wabah mematikan itu di kampung halaman Rokan Hilir.

Dengan demikian, seharusnya wabah AIDS di Rokan Hilir tidak hanya menjadi kekuatiran Wakil Bupati H Suyatno selaku ketua KPA Rohil. Mestinya, itu juga menjadi kekuatirkan kita semua dan ikut bersama-sama berpartisipasi menanggulanginya. Lantas apa saja yang bisa kita lakukan? (bersambung)

*pernah dipublikasi di posmetro rohil, 1 desember 2012